Tampilkan postingan dengan label ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ilmu. Tampilkan semua postingan

Isi dan fungsi AL-QUR'AN

Sabtu, 16 Oktober 2010



الحمد لله الذى انزل على عبده الكتاب تبصرة لاولى الاباب واودعه من فنون العلوم والحكم العجب العجاب. جعله أجل الكتاب قدرا وأغزرها علما وأعذبها نظما وأبلغها فى الخطاب قرانا غربيا غير ذي عوج ولا مخلوق ولا شبهة فيه ولا ارتياب. اشهد ان الله اله الا الله وحده لا شريك له رب الارباب الذى عنت لقيومته الوجوه وخشعت لعظمته الرقاب وأشهد ان سيدنا محمدا عبده ورسوله المبعوث لاكرم الشعوب واشرف الشعاب الى خيرامة بأفضل كتاب صلى الله عليه وسلم وعلى اله وصحبه الانجاب  صلاة وسلاما دائمين الى يوم المأب. اما بعد

Sesungguhnya ilmu itu bagaikan lautan yang luas nan dalam yang tiada pusatnya yang memuat air dan berbagai macam kekayaan yang tak pernah habis. Barang siapa yang ingin menghitung atau menghabiskan maka tiada bisa sampai.
Allah SWT telah berfirman : (Q.S. Al Isro’ 85)
وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلا قَلِيلا  (الاسراء : 85)

Artinya : “Dan hendaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”

Kini kitab kita Al Qur’anul Karim yang merupakan pusat sumbernya dan tempat peredaran mataharinya, Allah menitipkan segala ilmu dan menjelaskan berbagai petunjuk didalamnya. Maka bisa kita lihat bahwa semua fan ilmu itu diambil darinya dan bergantung kepadanya.
Orang-orang ahli fiqih darinya mangambil macam-macam hukum, sehingga bisa mengeluarkan hukum halal haram.
Orang-orang ahli nahwu darinya mendirikan qoidah-qoidah I’rob dan kepadanya membuat rujukan akan kebenaran atau kesalahan dari suatu ucapan. Orang-orang ahli ma’any mengambil petunjuk dari urut dan kerapian susunan. Orang-orang ahli balaghoh memandang pada cetakan kalam. Begitu seterusnya orang-orang bacaan, Shorof, Tafsir, Tauhida, dll.
Di dalamnya terkandung berbagai cerita yang tidak mampu diingat oleh orang yang berwawasan. Dan terdapat contoh-contoh yang tidak akan reda dibeberkan oleh para pakar.
Rosululloh saw bersabda :

كتاب الله فيه نبأ ما قبلكم وخبر ما بعدكم وحكم ما بينكم هو الفصل ليس بالهزل ومن ابتغى الهدى فى غيره اضله الله تعالى وهو حبل الله المتين وهو الذكر الحكيم وهو الصراط المستقيم وهو الذي لا تزيغ به الاهواء وتلتبس به إلا لسنة ولا تشبع منه العلماء (الحديث(
Al Qur’an merupakan sumber dari berbagai ilmu, berupa kaca mata rahasia dan titipan hal yang paling asing nan aneh. Seperti ilmu kedokteran, iblu debat, ilmu alam, ilmu ukur, ilmu jabar dan perbandingan (matematika) ilmu perbintangan, dsb.
Adapun ilmu kedokteran, maka ukurannya adalah menjaga kesehatan yang stabil dan kekuatan yang normal. Hal yang demikian ini tak lepas dari suhu badan yang sedang dan temperature badan yang stabil. Hal ini diungkapkan di ayat :
وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا (الفرقان : 67)
Artinya : “Dan pembelanjaannya sedang, antara isrof dan kikir”

Kita mengetahui bahwa stabilitas kesehatan selalu campurannya suhu panas dan dingin. Bisa menimbulkan gangguan kesehatan setelah sakit. 
Allah berfirman :
شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ (النحل : 69)
Artinya : “Keluar dari perut lebah minuman yang bercampur waranya, didalmnya terdapat obat bagi manusia.
Kemudian ditambah dengan kesehatan rohani.
وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ (يونس : 57)
Artinya : “Dan telah atang kepada kalian obat untuk penyakit hati”
Walaupun ilmu debat, maka sudah banyak dikandung dalam berbagai ayat, seperti perdebatan Nabi Ibrohim.
Sedang keterangan ilmu alam termuat dalam berbagai ayat juga seperti ayat-ayat yang menerangkan kejadian dan pengaturan langit dan bumi.
Ilmu ukur diterangkan dalam ayat :
انْطَلِقُوا إِلَى ظِلٍّ ذِي ثَلاثِ شُعَبٍ لا ظليل ولا يغني من اللهب (المرسلات : 30-31)
Artinya : “Pergilah ke tempat teduh yang punya tiga cabang yang tidak punya bayang-bayang
    dan tidak bisa menolak sengatan api”
Disini terdapat qoidah bahwa : benda yang berbentuk segi tiga tidak punya bayang-bayang.
Adapun ilmu jabar/perbandingan, maka menurut Qoul bahwa awal-awal dulu surat itu menerangkan lamya tahun, hari dan tarech umat-umat dulu. Dan sejarah umat ini, sejarah dunia ini dan sejarah-sejarah yang telah lewat maupun yang belum terjadi dengan mengalikan sebagian kepada sebagian yang lain.
Ilmu pebintangan termuat dalam ayat :
أو أثارة من علم (الاحقاف : 4)
Artinya : “Dan datangkan kepadaku peninggalan dari pengetahuan orang-orang dahulu”.
Menurut penafsiran Ibnu Abas ra.
Dasar-dasar dari pekerjaan pun dipaparkan dalam Al Qur’an antara lain :
وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ (طه : 121)
Artinya : “Adam dan Hawa menutup kedua auratnya dari daun pohon surga”
Pandai besi diterangkan dalam ayat :
ءَاتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ (الكهف : 96)
Artinya : “Berilah aku potong-potongan besi”
وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ (سبأ : 10)
Arinya : “Dan Aku (Allah) lelehkan besi untuknya (Dawud)”
Bangunan dibeberkan dalam berbagai ayat.
-          Pertukangan disebutkan dalam ayat :
أَنِ اصْنَعِ الْفُلْكَ (مؤمنون : 27)
Artinya : “Bikinlah perahu”
-          Burdel alam ayat :
نَقَضَتْ غَزْلَهَا (النحل : 92)
Artinya : “Janganlah seperti perempuan yang melepas benang bordilannya”.
-          Tenun dalam ayat :
كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا (العنكبوت : 41)
Artinya : “Bagaikan laba-laba yang membuat rumah”
-          Pertanian dalam ayat :
كُلَّ بَنَّاءٍ وَغَوَّاصٍ (ص : 37)
Artinya : “Semua ahli bangunan dan ahli silam”
وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً (النحل : 14)
Artinya : “Kamu keluarkan darinya perhiasan yang kami pakai”
-          Batik/mewarna pakaian dalam ayat :
صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ صِبْغَةً (البقرة : 44)
Artinya : “Shibghoh Allah, dan siapakah yang lebih baik shibghihnya dari pada Allah”
-          Tukang emas dalam ayat :
وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَى مِنْ بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلا جَسَدًا (الاعراف : 148)
Artinya : Dan kaum Musa setelah perginya Musa ke gunung Thurisina membuat anak sapi
          bertubuh dari perhiasan (emas)
-          Tukang kaca dalam ayat :
صَرْحٌ مُمَرَّدٌ مِنْ قَوَارِيرَ (النمل : 44)
Artinya : “Istana licin yang terbuat dari kaca”
الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ (النور : 25)
Artinya : “Lampu di dalam kaca”
-          Bakar genteng/batu bata dalam ayat :
فَأَوْقِدْ لِي يَاهَامَانُ عَلَى الطِّينِ (القصص : 38)
Artinya : “Maka nyalakan api/bakarlah tanah liat untukku, Hai Haman”
-          Nahkoda/Sopir dalam ayat :
أَمَّا السَّفِينَةُ (الكهف : 79)
-          Nulis dalam ayat :
عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (العلق : 4)
-          Bikin kue dalam ayat :
أَحْمِلُ فَوْقَ رَأْسِي خُبْزًا (يونس: 36)
Artinya : “Saya bawa kue diatas kepalaku”
-          Memasak dalam ayat :
فجَاءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ (هود : 69)
Artinya : “Maka dia datang membawa anak sapi panggang”
-          Syuci dalam ayat :
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (المدثر : 4)
Ayat : “Dan sucilah pakaianmu”
-          Gosok/Setrika dalam ayat :
قَالَ الْحَوَارِيُّونَ (الصف : 14)
Artinya : “Mereka adalah tukang tukang nyetrika”
-          Tukang jagal dalam ayat :
إِلا مَا ذَكَّيْتُمْ  (المائدة : 3)
Artinya : “Kecuali hewan yang kau sembelih”
-          Jual-beli dalam berbagai ayat.
-          Tukang batu dalam ayat :
وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا (الاعراف : 74)
Artinya : “Kamu pahat gunung-gunung untuk kau jadikan rumah”
-          Nimbang/Nakar dalam berbagai ayat
-          Memanah dalam ayat :
وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللهَ رَمَى (الانفال : 17)
Artinya : “Dan kau tidak memanah ketika kau memanah. Tetapi Allah lah yang memanah”

Di dalam Al Qur’an terkandung juga nama-nama alat, macam-macam makanan,  minuman, dan istri-istri serta semua perkara yang telah terjadi maupun belum terjadi. Hal tersebut dinyatakan dalam firman :
مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ
Artinya : “Saya tidak berlebihan dalam menulis sesuatu”.
Semut juga nama-nama Allah, cerita para nabi, umatnya, cerita perorangan, kematian, kelahiran, alam barzach, qiyamat, surga, neraka, isinya dan kenikmatannya, dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebutkan.
Imam Suyuthi dalam kitab Iklil menyatakan : Tidak ada bab atau mas’alah dari berbagai ilmu kecuali dalam Al Qur’an terdapat ayat yang menunjukkannya.
Al qur’an sebagai mukjizat yang terbesar bagi Rosululloh yang abadi sepanjang masa, relefan untuk menjawab semua masalah dan terjaga keasliannya.
Terbukti Al Qur’an turun di tengah-tengah kaum ahli sastra yaitu orang arab yang arabnya fasih tapi mereka tidak mampu menandingainya. Allah berfirman :
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْءَانِ لا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا (الاسراء : 88)
Setelah Nampak mereka tidak mampu, maka bagi mereka yang tak iman mengatakan Al Qur’an itu kata penyair, kata dukun.
Allah menolaknya :
وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ (يس : 69)
إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ، وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ قَلِيلا مَا تُؤْمِنُونَ، وَلاَ بِقَوْلِ كَاهِنٍ قَلِيلاً مَا تَذَكَّرُونَ، تَنْزِيلٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (الحاقة : 40-42)
Sesungguhnya bukanlah Al Qur’an itu permainan dan kesenangan yang bisa diciptakan manusia.
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى، إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى (النجم : 2-3)
وَإِنَّهُ لَكِتَابٌ عَزِيزٌ، لا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ (فصلت : 41-42)
Di dalam menata Negara, daerah, desa maupun keluarga banyak sekali yang amandemen undang-undang maupun revisi ternyata tak pernah pas dan puas, tapi Al Qur’an tulen tiada perubahan dan selalu cocok dengan berbagai keadaan.
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (الحجر : 9)
والعبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب (القاعدة)
Diantara tujuan penting diturunkannya Al Qur’an adalah untuk disampaikan dan dijelaskan kepada kalian manusia peduman pandangan hidup bagi umat Islam.
وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ (النمل : 44)
Dalam penjelasan butuh penafsiran yang bergantung terhadap ilmu Asbabun Nuzul. Sehingga keberadaan ilmu ini sangat penting.
قال الن رقيق العبد : بيان سبب النزول طريق قوي فى فهم معاني القران
فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ (البقرة :115)
Bila kita hanya nengok dilalahnya lafadz-lafadz tanpa mengetahui sebab turunnya ayat ini maka kita akan mengatakan bahwa sholat itu tidak wajib menghadap qiblat baik sholat dalam perjalanan atau di rumah.
Hal semacam ini menyalahi jkesepakan para Ulama’ tapi bila mengetahui sebab turunnya, maka akan tahu bahwa ayat tersebut menerangkan orang yang sedang dalam perjalanan dan qiblat sholatnya orang yang tak tahu arah kemudian ia sholat dengan ijtihad ternyata salah arah, sholat demikian sah.
Demikian juga Al Qur’an bisa untuk obat, baik obat hati dari penyekit kufur, syirik maupun penyakit badan.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ (يونس : 57)
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَاءٌ (الاسراء : 82)
Bukti dalam cerita panjang… akhirnya Rosululloh bersabda :
وما يدريك انها رقية
Para shohabat di masa Islam berkembang mereka sama meraih rangking kemulyaan serta kehidupan yang sejahtera dan menyenangkan karena mereka berjalan di atas prosedur yang telah digariskan dalam Al Qur’an kini kehidupan tersebut terbalik gara-gara kita melupakan tidak mau membaca maupun mengamalkan.
Semoga Allah memberikan pertolongan kepada kita untuk selalu mampu membaca, mengamalkan sesuai dengan isi yang tersirat dan senantiasa mendapat ridho dari-Nya. Amiin.

sumber : Bpk. Moh. Irsyad

Riwayat bacaan AL-QUR'AN

Qodhi Jalaluddin Al-Bulqini berkat : "Bacaan Al-Qur'an itu terbagi menjadi 3 riwayat :
  1. Mutawatir, yaitu bacaan yang di-nuqil oleh orang banyak yang tidak mungkin mereka berkompromi untuk berbuat dusta dari sesamanya sampai akhir sanad. Sebagaimana Qiro'ah Sab'ah.
  2. Ahad, yaitu bacaan yang sah sanadnya tapi menyalahi tulisannya atau aturan bahasa Arab. Sebagaimana Qiro'ah tiga orang yang menyempurnakan Qiro'ah Asyroh, yaitu : Ya'qub, Abu Ja'far, Kholaf bin Hisyam.
  3. Syadz, yaitu bacaan yang sanadnya dhoif atau ghorib sehingga tidak masyhur, sebagaimana qiro'ahnya para Tabi'in, seperti : A'masy, Yahya bin Watsab, Ibnu Jubair. 
Lebih bagus lagi dalam pembahasan ini adalah kata Imam Qiro'ah di masanya, juga gurunya guru-guru kita : Abul Khoir Ibnul Jazary di awal permulaan kitabnya "An-Nasyr". Setiap bacaan yang cocok dengan bahasa Arab sekalipun dalam satu wajah yang Dhoif dan cocok sanadnya, maka merupakan bacaan yang sah tidak boleh ditolak dan tidak halal diinkari. Bahkan bacaan tersebut merupakan huruf tujuh (tujuh wajah) yang Al-Qur'an diturunkan dengan huruf tersebut dan wajib diterima oleh semua manusia baik dari Imam bacaan yang tujuh, sepuluh atau dari lainnya (Imam yang bisa diterima bacaannya). Ketika salah satu dari 3 sendi tadi cacat, maka bacaan tersebut dhoif, syadz atau bathal baik dari Qurro' Sab'ah atau atasannya. Kata Ibnu Jazary, ini adalah pendapat yang benar menurut
أئمة التحقيق من السلف والخلف
Mushhaf Utsmani artinya Mushhaf yang penulisannya diperintahkan oleh Kholifah Utsman. Jumlahnya ada 6.
  1. Untuk orang-orang Makkah
  2. Untuk orang-orang Syam
  3. Untuk orang-orang Bashroh
  4. Untuk orang-orang Kufah
  5. Untuk orang-orang Madinah secara umum
  6. Untuk dirinya sendiri yang dinamakan الامام
Menurut Qil ada 8 dengan menambahkan
  1. Mushhaf Bahrain
  2. Mushhaf yaman
Menurut Qil, Utsman mengirim  Mushhaf itu ke Mesir.

Kecocokan bacaan dengan tulisan itu ada 2.
  1. Cocok secara nyata, contoh ملك الناس
  2. Cocok secara kira-kira, contoh ملك يوم الدين
 {معرفة الوقف والإبتداء} 

Mengetahui Wakaf dan Ibtida' adalah Fan yang penting, kerena dengannya makna al-Qur'an bisa diketahui. Ibnu Umar berkata : "Sungguh kita hidup baru sebentar, dan sungguh salah satu dari kita diberi iman sebelum Qur'an dan surat-surat sedang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, lantas kita belajar halal-haramnya, kata-kata yang diperbolehkan untuk diwakafkan sebagaimana kalian semua belajar Qur'an di hari ini. Dan sungguh di hari ini aku melihat banyak lelaki yang diantara mereka ada diberi qur'an sebelum iman sehingga membaca mulai dari awal hingga khatam tapi tidak mengerti perintah, larangan dan tempat-tempat yang boleh diwakafkan". Hadits tersebut menunjukkan bahwa, para Shahabat belajar waqof-waqof sebagaimana mereka belajar Al-Qur'an. Ibnu Anbary berkata : "Termasuk kesempurnaan belajar al-Quran adalah mengetahui waqof dan Ibtida'.
Allah berfirman :
وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا
Artinya : "Perjelas Al Qur'an dengan sejelas-jelasnya"
الترتيل تجويد الحروف ومعرفة الوقوف
Tartil adalah memperbaiki huruf-huruf dan mengetahui waqof-waqof.
Termasuk fungsi mengetahui waqof ialah : karena tiada orang yang mampu membaca satu surat atau cerita (Qishoh) dalam satu nafas, sehingga wajib mengetahui waqof-waqof untuk ambil nafas. Karena pentingnya fan tersebut, maka para guru tidak berkenan meng-Ijazahi murid-murid yang belum mengetahuinya.
Dalam waqof ada 3 istilah :
1.      قطع yaitu memutus bacaan tanpa ada tujuan meneruskan.
2.      وقف yaitu memutus bacaan dalam masa yang cukup untuk ambil nafas.
3.      سكت  yaitu memutus bacaan tanpa ambil nafas. Akan tetapi saket ini dalam kategori washol.

Waqof ada 4.
  1.    تام: Suatu huruf yang bagus wakaf padanya dan memulai dengan huruf berikutnya. Dan tidak ada hubungan dengan huruf setelahnya. Wakaf ini adalah wakaf yang terpilih.
  2. كاف  : Sama dengan tam, tapi masih ada hubungan dengan huruf berikutnya. Wakaf ini hukumnya jaiz 
  3. حسن : Suatu huruf yang bagus wakaf padanya tetapi tidak bagus memulai dengan huruf sesudahnya. Wakaf ini sudah memberitakan arti yang dapat dipahami.  
  4. قبيح  : Yaitu wakaf yang darinya tidak dapat dipahami maknanya. Wakaf ini seharusnya ditinggalkan.  
Bagi para Qori' yang masih merasa kerepotan/kesulitan untuk mengetahui susunan kata/I'rob al-Qur'an, bisa berpegang dengan isyaroh yang dipergunakan untuk tanda waqof atau washol yang telah dipasang oleh ulama-ulama bacaan.

Sejarah pemasangannya :

{فائدة} ما اثبت فى المصحف الان من اسماء السور والاعشار شيئ ابتدعه الحجاج فى زمنه (قوله شيئ ابتدعه) كان القرأن  الذى كتب بأمر سيدنا عثمان رضى الله عنه يسمى مصحف الامام غير مشكول ولا منقوط وذلك لتيسير قراءته على الاوجه التى صح سماعها عن النبى صلى الله عليه وسلم  من القراآت  المتوترة  الموافقة لرسم الامام التى لا يتعارض معنى القرأن عليها كقوله تعالى :  وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا َتعْمَلُونَ، قرئ بالتاء وبالياء لكن لما دخل الاعاجم فى الاسلام وفشا اللحن فى الالسنة قام ابو الاسود الدؤلى بمهمة ضبطه فوضع للناس علامات فجعل الفتحة نقطة علوية والكسرة نقطة سفلية والضمة الى الجانب والتنوين، لكن هذه الطريقة لم تكن كافة للألسنة عن الخطأ فدعا ذلك الى نقط الحروف وشكلها وتقسم القران ليسهل حفظه فقام بذلك نصر بن عاصم والحجاج والخليل بن احمد الفراهيدى. ولم يزل الحفاظ والقراء يعتنون بالقران بالفصل بين ايته وبيان علامات الوقف والابتداء وغير ذلك مما يعين على احكام تلاوته (فيض الخبير ص 19-20)

Ulama' bacaan mempunyai beberapa pilihan dalam wakaf dan ibtida'
  1. Imam Nafi' memilih kesesuaiannya
  2. Ibnu Katsir dan Hamzah wakaf ketika nafas habis
  3. Ashim dan Kisai wakaf pada sempurnanya kalam
  4. Ibnu Amr bersandar pada akhir ayat. Dan dia mengatakan "ini yang saya gemari".
Sebagian  ulama ada yang mengatakan sunat wakaf pada akhir ayat, berpegang pada hadits Imam Baihaqi

عن أم سلمة ان النبي صلى الله عليه وسلم كان اذا قرأ قطع قراءته اية اية يقول بسم الله الرحمن الرحيم ثم يقف الحمد لله رب العالمين ثم يقف الرحمن الرحيم ثم يقف.

Menurut Imam Ashim bahwa hadits tersebut bukan untuk menjelaskan wakaf, tetapi Rosululloh SAW mengajarkan Fatihah kepada Shahabat bahwa berhentinya itu berupa akhir ayat.

sumber : Bpk. Moh. Irsyad

kaidah tajwid

V
الحمد لله الذى انزل القرآن وشرفنا بحفظه وتلاوته وتعبدنا بتجويده وتحريره وجعل ذلك من اعظم عبادته. فطوبى لمن اعرض عن كل شاغل يشغله عن تدبره ودراسته مع رعاته ادابه الظاهرة والباطنة والقيام بحرمته وجلالته فهو كتاب كريم لا يأتيه الباطل من بين يديه ولا من خلفه. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد الذى ارسل به لهداية امته وعلى آله وصحبه الذين ملأ الله قلوبهم بمعرفته ومحبته فنهضوا بالارشاد والافادة لخدمته. اما بعد.

Sesungguhnya mencurahkan upaya untuk hidmad kepada Kitab Allah itu merupakan amal pendekatan kepada Allah yang sangat besar dan amal yang menyelamatkan diri juga sebaik-baik simpanan untuk hari kelak dimasa nampak jelas antara orang-orang yang beruntung dari orang-orang yang sama rugi.

Sebagaimana keterangan dalam hadits-hadits yang sering kita terima. Oleh sebab itu maka orang-orang yang menghafal Al-Qur'an, mengkaji, memperdalam, mengajarkan, mengamalkan, membaca dan menjaga hak-haknya adalah ahli Allah, pilihan-Nya dan semulya-mulya umat. Mereka mempersiapkan diri mencari bekal dari dunia yang fanak ini sebelum meninggalkannya.

Alangkah mulyanya ilmu yang sanadnya sampai kepada Allah Sang Pencipta alam semesta lewat Jibril dan Muhammad Sayyidul Ambiya'. Alangkah besarnya nikmat orang-orang yang bisa berupaya dan memiliki ilmu tersebut. Tetapi anehnya balak yang timbul di kalangan kita. Diantara kita banyak yang memberanikan diri untuk mengajarkannya sebelum mendalami dan mengkukuhkan ilmu-ilmu yang mereka butuhkan, yaitu : shoheh – saqimnya, mutawatir – syadznya, wajah yang halal dibaca – tidak halalnya. Bahkan diantara mereka meyakinkan bahwa semua yang mereka jumpai dari kitab-kitab Qiro'ah itu shoheh. Padahal semestinya tidak seperti itu.

Diantara hal-hal tersebut yang penting adalah mentajwidi Al-Qur'an yaitu memberi hak-hak huruf, mentertibkan, mengembalikan huruf pada makhroj dan asalnya serta memperlambat ucapan sesuai dengan keadaan yang sempurna tanpa berlebihan dan mempersulit.

Para ulama menilai bacaan yang tidak ditajwidi itu lahen. Sedang lahen itu ada dua; 
  • Lahen Jaly, yaitu kekeliruan/kesalahan yang sangat nampak yang timbul pada lafadz yang bisa diketahui oleh orang-orang ahli bacaan maupun tidak ahli, seperti kesalahan dalam I'rob.
  • Lahen Khofi, yaitu kesalahan yang hanya bisa diketahui oleh ulama' bacaan dan ulama ada' (mentashhih bacaan pada guru)
Ibnul Jazary Abul Khoir Muhaqqiqil Mutaachirin fi ilmi qiroah mengatakan : "Saya mengetahui puncak tajwid sebagimana melatih lidah dan mengulang-ulang lafadz yang telah diterima dari mulut orang bagus bacaannya.

والاخذ بالتجويد حتم لازم         من لم يجود القرآن اثــــم                   لانــــه بــــــه الالـــــه انـــــزل  وهكــــــــــذا منــــه الينا وصـلا
وهو ايضا حليــة التــــــلاوة      وزينـــة الاداء والــقراءة                   وهو اعطاءالحروف حقها         من صفـــــة لـــــها ومستحقــــها
ورد كل واحد لأصلــــــــه        واللفظ فى نظره كمثــله           مكملا من غير ما تكلف باللطف فى النطق بلا تعسف
وليس بينه وبين تركــــــــه       الا ريــــاضة امرئ بفكه

Apabila pembaca sudah bisa membaca setiap huruf sesuai dengan batas-batas dan hak-haknya, maka hendaknya mempraktekkan bacaan tersebut ketika huruf-huruf tadi tersusun dengan huruf-huruf lainnya. Sebab akan timbul dari huruf yang tersusun suatu bacaan yang ketika huruf itu berdiri sendiri tidak timbul. Adapun timbulnya bacaan tersebut sesuai dengan huruf-huruf yang menyertainya (sejenis berdekatan, kuat-lemahnya, tebal-tipisnya), sehingga huruf kuat bisa menarik huruf lemas dan yang tebal mengalahkan huruf tipis. Hal seperti ini menyulitkan lidah untuk mengucapkan secara benar, kecuali dengan latihan yang sungguh-sungguh.
 قال علم الدين فى التجويد :
لا تحسب التجويد مدا مفرطا               او مد ما لا مد فيه لوان  اوان تشــــــــدد بعد مد همــــزة اوان تلوك الحرف كالسكران
اوان تفــــــوه بـــــهمزة متهوعــــــا      فيفرسا معها من الغثيان للحرف ميزان فلا تك طاغيــــا فيـــــــه ولا تك مخسر الميزان
فاذا همزت فجئ به متــــــــلطفا           من غيرما بهر وغير توان       وامدد حروف المدعندمسكن      او همزة حسنا اخا احسان

Nabi bersabda : Terfitnah hati orang-orang yang membaca lahen dengan suara penyanyi dan hati orang-orang yang mengaguminya. Diantara bid'ah mereka adalah : 
  1. Tar'id, yaitu menggetarkan suara seolah-olah gitar karena kedinginan atau sakit. 
  2. Tarqish, yaitu menyenderungkan sukun terhadap huruf mati kemudian melarikan beserta harokat seolah-olah gugup. 
  3. Tathrib, yaitu menyanyikan Al-qur'an kemudian memperpanjang di tempat pendek atau memperpanjang yang tak pantas.
sumber : Bpk. Moh. Irsyad

Definisi Al Qur’an


Al qur’an adalah lafadz yang diturunkan kepada baginda Muhammad Rosululloh saw untuk melemahkan lafadz-lafadz lain (orang-orang ahli syair arab-red) dengan satu surat terpendek serta dinilai ibadah dengan membacanya.
Syekh Zamzami dalam kitab karangannya منظومة التفسير berkata :
فذاك ما على محمد نزل       ومنه الاعجاز بكل صورة حصل
Al Qur’an berupa alam sakhes sebagaimana nama kitab-kitab dan terjemah-terjemah lain. Adapun madlulnya adalah kumpulan lafadz-lafadz yang tersusun yang telah desepakati ulama-ulama ahli bacaan. Sedang bermacam-macamnya bacaan yang berbeda-beda dikalangan mereka, itu tidak sampai mencacat pada syakhsiyahnya Al qur’an. Sebab telah menjadi ketetapan bahwa beda-bedanya sfifat itu tidak akan mengubah dzat. Contoh أأنذرتهم menurut suatu qoul bahwa Al qur’an itu berupa alam jinis yang digunakan untuk menunjukkan macam-macam lafadz yang hadir dalam hati.
Menurut qoul lainnya, Al qur’an berupa isim jinis sebab menerima ال
Menurut wajah أصح adalah pendapat pertama yaitu alam syakhes sesuai pendapat Abu Ma’aly Uzaizi bin Abd. Malik dalam kitabnya Al Burhan berkata : Allah member nama Al Qur’an dengan lima puluh nama, yaitu :
1 Kitab

2 Mubin dalam firman-Nya
حم والكتاب المبين
3 Qur’an    4. Karim dalam firman-Nya
انه لقران كريم
5  Kalam dalam firman-Nya
حتى يسمع كلام الله
6. Nur dalam firman-Nya
وانزلنا اليكم نورا مبينا
7. Huda  8. Rohman dalam firman-Nya
هدى ورحمة للعالمين
9. Furqon dalam firman-Nya
نزل الفرقان على عبده
10. Syifa’ dalam firman-Nya
ونزل من القران ما شفاء
11. Mauidhoh dalam firman-Nya
قد جاءتكم موعظة من ربكم وشفاء لما في الصدور
12. Dzikr  13. Mubarok  dalam firman-Nya
وهذا ذكر مبارك أنزلناه
14. Aly dalam firman-Nya
وإنه في أم الكتاب لدينا لعلي حكيم
15. Hikmah dalam firman-Nya
حكمة بالغة
16. Hakim  dalam firman-Nya
تلك ايات الكتاب الحكيم
17. Muhaimin dalam firman-Nya
مصدقا لما بين يديه من الكتاب ومهيمنا عليه
18. Habl dalam firman-Nya
واعتصموا بحبل الله
19. Shiroth Mustaqim dalam firman-Nya
وأن هذا صراطي مستقيما
20. Qoyyim dalam firman-Ny
قيما لينذر به
21. Qoul, 22. Fashl dalam firman-Nya
انه لقول فصل
23. Naba’ Adhim dalam firman-Nya
عم يتساءلون، عن النبإ العظيم
24. Ahsanal Hadits, 25.  Matsany, 26. Mutasyabih dalam firman-Nya
الله نزل أحسن الحديث كتابا متشابها مثاني
27. Tanzil dalam firman-Nya
وإنه لتنزيل رب العالمين
28. Ruh dalam firman-Nya
أوحينا إليك روحا من أمرنا
29. Wahyu dalam firman-Nya
إنما أنذركم بالوحي
30. Aroby dalam firman-Nya
قرآنا عربيا
31. Bashoir dalam firman-Nya
هذا بصائر للناس
32. Bayan dalam firman-Nya
هذا بيان للناس
33. Ilmu dalam firman-Nya
من بعد ما جاءهم العلم
34. Haq dalam firman-Nya
إن هذا لهو القصص الحق
35. Hady dalam firman-Nya
ان هذا القرآن يهدي للحق
36. ‘Ajab dalam firman-Nya
قرآنا عجبا
37. Tadzkiroh dalam firman-Nya
وإنه لتذكرة للمتقين
38. Urwatul Wutsqo dalam firman-Nya
فقد استمسك بالعروة الوثقى
39. Sidiq dalam firman-Nya
والذى جاء بالصدق
40. Adil dalam firman-Nya
وتمت كلمة ربك صدقا وعدلا
41. Amr dalam firman-Nya
ذلك أمر الله أنزله إليكم
42. Munady dalam firman-Nya
سمعنا مناديا ينادي للإيمان
43. Busyro dalam firman-Nya
هدى وبشرى
44. Majid dalam firman-Nya
بل هو قرآن مجيد
45. Zabur dalam firman-Nya
ولقد كتبنا في الزبور
46. Basyir  47. Nadzir dalam firman-Nya
كتاب فصلت ءاياته قرءانا عربيا لقوم يعلمون بشيرا ونذيرا
48. Aziz dalam firman-Nya
وانه لكتاب عزيز
49. Balagh dalam firman-Nya
هذا بلاغ للناس
50. Qoshosh dalam firman-Nya
احسن القصص
51. Shuhuf, 52. Mukarromah , 53. Marfuah, 54. Muthohharoh dalam firman-Nya
في صحف مكرمة مرفوعة مطهرة
55. Rizqi dalam firman-Nya
ورزق ربك خير وأبقى

Diantara nama-nama tersebut yang popular adalah Al Qur’an. Artinya Al Qur’an adalah Al Jam’u yaitu kumpulan. Allah berfirman :
إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ
Pemberian nama tersebut berbeda dengan pemberian nama kalam orang arab. Mereka member nama kalamnya secara global dan rinci. Kalam yang global mereka namai Diwan bagiannya mereka namai Qosidah bagiannya mereka namai Bait sedangkan akhir bait mereka namai Qofiah. Allah member nama kalam-Nya secara global dengan nama Al Qur’an dari bagiannya bernama Surat dari bagian surat bernama Ayat, akhirnya bernama Fashilah.

sumber : Bpk. Moh. Irsyad